Tampilkan postingan dengan label Sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sedih. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2012

Merindukan Tanpa Tau Apakah Dirindukan

Yang terpampang di mataku adalah wajahmu, seakan-akan senyummu tak akan pernah pudar.
Aku termenung di satu sudut dinding kamarku
Memikirkan tentangmu tentang apa yang selama ini kita bangun

Terkadang aku berkata dalam hati ini, Apakah aku dirindukan seperti apa yang aku rasakan ?
Terkadang aku bertanya pada Tuhan, Apakah Cinta yang aku punya dia juga miliki ?
Rasa Takut kehilangan mulai menyelimuti Pikiranku
Karena hati ini sudah Memilihnya untuk tetap bersama selamanya.

Meski aku tak pernah tau jawabnya, tapi aku terus merindukanmu
Tanpa tau apakah dirimu juga merindukanku, Tanpa tau apakah dirimu juga memiliki Cinta yang sama denganku.
Dalam hati ini meski sulit untuk mengatakannya padamu, Tapi ini adalah Pilihanku yaitu kamu.

Terkadang aku menuruti apa peraturanmu, Tapi jangan biarkan aku tersakiti dengan hal itu.
Aku melakukannya Bukan karena aku lemah dan tidak mau membantah peraturanmu, Tapi aku menghargaimu sebagai seseorang yang terpenting dalam hidupku.
Tanpa aku tau apakah aku ini juga penting dalam hidupmu ?
Aku tak peduli tentang hal itu. Aku merasa dianggap ada saja, aku sudah sangat berterima kasih.

Tolong aku, Jangan buat aku bersedih karena hal ini.
Aku merindukanmu, sungguh sangat merindukanmu.
Aku hanya seorang yang tidak sempurna, tak bisa memberimu kejutan-kejutan yang cukup manis dan romantis.
Tapi aku masih memiliki hati yang selalu mencintaimu ...
Apapun kata orang tentangmu, aku tak pernah pedulikan itu karena aku tau kamu.
Aku hanya ingin engkau mengerti Perasaanku saat ini.

Aku tak punya Banyak hal dan cara untuk bahagiakanmu,
Aku cuma bisa merangkai lagu ini untukmu .
Hanya untukmu sayang.

This is the story of why I Love You
by: Elwin Halawa

I Don't have reason to stop loving you
So Don't ever ask again about it
You should know that, the love that I have
is a love that never go away 

Love story that you created
like I was living in heaven your love
when looking at  your beautiful face
as if the sunshine in your eyes
I tell you
this is the story of why I love you
but not,that is not reason

Your Smile as if beat the rainbow
giving millions colors in my life
I tell you
this is the story of why I love you
but not,that is not reason

You are my light
shine in and illuminate my path at all times
always give warmth
and an thrusting of my life
I tell you
this is the story of why I love you
but not,that is not reason

I love you,because you that you and all about you
i'm not have reason 
Because I love you Always and forever 

Aku Belum bisa menyanyikannya untukmu karena Komposer nadanya belum bisa aku temukan hehehehe
Baca Selengkapnya - Merindukan Tanpa Tau Apakah Dirindukan

Kamis, 07 Juni 2012

Sayang Itu Tidak Harus Marah, Tapi Mengingatkan

Aku hanya mengingatkanmu
Pernah gak sih kita membedakan antara marah dan mengingatkan ?
Yah... Kejadian seperti ini seringkali terjadi antara pasangan atau pacar :)
Ada banyak hal yang mengakibatkan hal tersebut
Tapi lakukanlah itu bukan karena Egoisme.
Wah kayaknya yg Nulis Pengalaman nih ya wkwk

Marah itu karena Sayang
Marah sebenarnya ketika melakukan suatu kesalahan
Ya karena itu memang salah hehehe
Lah apa bedanya dengan mengingatkan ?
Mengingatkan juga terkadang di pikir orang, sama arti dengan marah
Padahal hanya tujuan mereka yang sama yaitu karena sayang.

Mengingatkan adalah cara halus supaya dilain waktu jangan terjadi Marah
Mengingatkan masih memberikan sedikit waktu untuk merubahnya
Sementara Marah langsung dilakukan saat itu juga.

Mengingatkan kalau dilihat lebih detail adalah
Memberikan waktu kepada seseorang untuk melakukannya
Memberikan waktu kepada seseorang untuk mengerti tentang apa yang dilakukannya.

Jadi ,jika anda menyayangi seseorang ingatkanlah dia
Supaya amarah itu tidak akan pernah ada.
Kalau marah banyak lagi cerita yang akan terjadi
Bisa saja terjadi Tangisan, Kesedihan, Bahkan Trauma...

"Lebih baik mengingatkan dahulu dari pada suatu saat aku akan marah
Aku melakukannya karena aku tidak mau Marah dan menyakiti perasaanmu
Terkadang aku pikir bahwa ini karena Egoku
Tapi dilain sisi hal ini wajar saja karena aku tidak mungkin mau kehilanganmu."
Rasa sayang itu tidak harus Selalu disanjung dan di indahkan
Mengingatkan
Menegur
Bahkan Marah adalah Bagian dari perasaan sayang, yah tergantung bagaimana kita mengaplikasikannya dimana dan apa sebabnya.

I have chosen you in my life because I Love You
I don't want losing you
because I do not want to live in regret " You Must Know That "
Baca Selengkapnya - Sayang Itu Tidak Harus Marah, Tapi Mengingatkan

Rabu, 12 Oktober 2011

Swear It Again " Lagu Terindah Untukmu "

And Oh My Love
Im Holding.....
Baca Selengkapnya - Swear It Again " Lagu Terindah Untukmu "

Senin, 20 Juni 2011

I Cried For My Brother Six Times



Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan diriku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.


"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.


Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"


Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.


Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"


Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"


Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.


Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.


Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.


Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya merengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..."
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"


Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."


Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.
"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan, saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"


Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."


Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:
"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.


Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).


Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"


Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?


Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"


Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"


Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."


Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."


Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.


Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.
"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"


Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."


Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya.
"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."


Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.


Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Berkali-kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."


Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.


Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.


Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"


Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan menjadi buah bibir orang?"


Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?"
Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"


Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."


Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."


Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih kepadanya adalah adikku."


Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

posting ini saya copas dari salah satu web yang saya lupa nama webnya , semoga bermanfaat buat kita semua...
Baca Selengkapnya - I Cried For My Brother Six Times

Sabtu, 19 Maret 2011

RAHASIA SEORANG PAPA

Bagi seorang yang sudah dewasa, yang sudah jauh dari orangtua, akan sering merasa kangen dengan mamanya. Bagaimana dengan papa?
Bagi seorang yang sudah dewasa, yang sudah jauh dari orangtua, akan sering merasa kangen dengan mamanya. Bagaimana dengan papa?

Mungkin karena mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaan setiap hari.
Namun, tahukah Anda, jika ternyata papalah yang mengingatkan mama untuk meneleponmu?

Saat kecil, mamalah yang lebih sering mendongeng.
Namun, tahukah Anda bahwa sepulang papa bekerja dengan wajah lelah beliau selalu menanyakan apa yang Anda lakukan seharian.

Saat Anda sakit batuk atau pilek, papa kadang membentak "sudah dibilang! jagan minum es!".
Namun, tahukah Anda bahwa papa khawatir?

Ketika Anda remaja, Anda menuntut untuk mendapat ijin keluar malam. Papa dengan tegas berkata "tidak boleh!"
Sadarkah Anda bahwa papa hanya ingin menjagamu? Karena bagi papa, Anda adalah sesuatu yang sangat berharga.

Saat Anda bisa lebih dipercaya, papapun melonggarkan peraturannya. Anda akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan papa adalah menunggu di ruang tamu dgn sangat khawatir.

Ketika Anda dewasa dan harus kuliah di kota lain. Papa harus melepasmu.
Tahukah Anda bahwa badan papa terasa kaku untuk memelukmu? Dan papa sangat ingin menangis.

Di saat Anda memerlukan ini itu, untuk keperluan kuliahmu, papa hanya mengernyitkan dahi, tetapi tanpa menolak, beliau memenuhinya.

Saat Anda diwisuda. Papa adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dan bangga.

Sampai ketika pasangan hidupmu datang untuk meminta ijin mengambilmu dari papa.
Papa akan sangat berhati-hati dalam memberi ijin. Dan akhirnya..

Saat papa melihatmu duduk di pelaminan bersama seseorang yang dianggapnya pantas, papapun tersenyum bahagia.

Apa Anda tahu,bahwa papa sempat pergi ke belakang dan menangis? Papa menangis karena papa sangat bahagia. Dan iapun berdoa "Ya Tuhan, tugasku telah selesai dengan baik.
Bahagiakan putra/i kecilku yang manis bersama pasangannya".

Setelah itu papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk dengan rambut yang memutih dan badan yang tak lagi kuat untuk menjagamu.
Mungkin karena mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaan setiap hari. 
Namun, tahukah Anda, jika ternyata papalah yang mengingatkan mama untuk meneleponmu?

Saat kecil, mamalah yang lebih sering mendongeng. 
Namun, tahukah Anda bahwa sepulang papa bekerja dengan wajah lelah beliau selalu menanyakan apa yang Anda lakukan seharian.

Saat Anda sakit batuk atau pilek, papa kadang membentak "sudah dibilang! jagan minum es!".
Namun, tahukah Anda bahwa papa khawatir?

Ketika Anda remaja, Anda menuntut untuk mendapat ijin keluar malam. Papa dengan tegas berkata "tidak boleh!"
Sadarkah Anda bahwa papa hanya ingin menjagamu? Karena bagi papa, Anda adalah sesuatu yang sangat berharga.

Saat Anda bisa lebih dipercaya, papapun melonggarkan peraturannya. Anda akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan papa adalah menunggu di ruang tamu dgn sangat khawatir.

Ketika Anda dewasa dan harus kuliah di kota lain. Papa harus melepasmu.
Tahukah Anda bahwa badan papa terasa kaku untuk memelukmu? Dan papa sangat ingin menangis.

Di saat Anda memerlukan ini itu, untuk keperluan kuliahmu, papa hanya mengernyitkan dahi, tetapi tanpa menolak, beliau memenuhinya.

Saat Anda diwisuda. Papa adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dan bangga.

Sampai ketika pasangan hidupmu datang untuk meminta ijin mengambilmu dari papa.
Papa akan sangat berhati-hati dalam memberi ijin. Dan akhirnya..

Saat papa melihatmu duduk di pelaminan bersama seseorang yang dianggapnya pantas, papapun tersenyum bahagia.

Apa Anda tahu,bahwa papa sempat pergi ke belakang dan menangis? Papa menangis karena papa sangat bahagia. Dan iapun berdoa "Ya Tuhan, tugasku telah selesai dengan baik.
Bahagiakan putra/i kecilku yang manis bersama pasangannya".

Setelah itu papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk dengan rambut yang memutih dan badan yang tak lagi kuat untuk menjagamu.


Sumber : htc
Baca Selengkapnya - RAHASIA SEORANG PAPA